"Selamat Datang di situs Filsafat Pendidikan Islam. Situs ini memuat materi seputar Filsafat pendidikan Islam. Situs ini juga sebagai media interaksi kami dengan Maha Guru kami juga sebagai wahana untuk penilaian (tugas). Situs ini tampil dengan sangat sederhana mengingat situs ini adalah untuk kegiatan resmi perkuliahan. Kami menerima saran dan kritik dari para pengunjung. Terima kasih

Kamis, 21 Oktober 2010

KELOMPOK 1


EPISTEMOLOGI

Diresum Oleh Astri Mandona (08410071)


Secara etimologi, kata epistemologi berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti knowledge (pengetahuan) dan logos berarti the study of. Secara harfiah, epistemologi berarti “studi atau teori tentang pengetahuan”. Namun dalam diskursus filsafat, epistemologi merupakan cabang dari filsafat yang membahas asal usul, struktur, metode-metode, dan kebenaran pengetahuan (teori tentang pengetahuan).

Epistemologi pada masa Plato ini bersifat rasional spekulatif. Maksudnya, pemikiran rasional Plato semata-mata didasarkan kepada keyakinan akan adanya dunia ide, yaitu ide-ide bawaan manusia, tidak betul-betul didasarkan pada pemikiran yang bertumpuk pada fakta-fakta empiris. Aristoteles tidak sependapat dengan teori-teori yang dicetuskan Plato tersebut. Menurut Aristoteles, pengetahuan itu bukan berasal dari ide-ide bawaan, karena ide-ide bawaan itu sebenarnya tidak ada. Menusia memperoleh pengetahuan melalui proses pengamatan iderawi yang panjang yang disebut sebagai proses abstraksi. Untuk mengatasi keterbatasan epistemologi yang hanya mengandalkan pada indera dan rasio, diperlukan perangkat ketiga, yaitu perangkat yang dapat mengakomodasi unsur rasa, yakni intuisi. Intuisi merupakan kemampuan untuk memahami sesuatu secara langsung tanpa melalui proses penalaran dan pengkajian secara sadar.

Perlu digaris bawahi bahwa epistemologi yang semula berkembang di Yunani terutama dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang bersifat rasional spekulatif itu, kemudian dikembangkan oleh al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina menjadi rasional empirik, selanjutnya dikembangkan oleh al-Ghazali menjadi empirik transcendental dan akhirnya sampai pada Ibn Rusyd menjadi empirik eksperimental. Di antara argumen Fazlur Rahman adalah bahwa epistemologi yang berkembang di Barat lebih terfokus pada wilayah natural sciences sedangkan pemikiran Fazlur Rahman terletak pada wilayah humanisties, lebih khusus lagi pada diskursus Islamic studies. Oleh karena itu, untuk melihat epistemologi pemikiran Fazlur Rahman tidak cukup hanya menggunakan epistemologi yang berkembang di Barat, tetapi diperlukan alat analisis lain yang lebih komprehensif, yaitu perangkat kerangka analisis epistemologi yang khas untuk pemikiran Islam.

Epistemologi Rahman adalah epistemologi Muhammad Abid al-Jabiri, ini didasarkan kepada adanya berbagai benang merah yang menunjukkan kesamaan, disamping perbedaan antara keduanya. Rahman dan al-Jabiri sama-sama dilahirkan dan dibesarkan di Negara yang bertradisi Islam, Rahman di belahan dunia Islam bagian Timur, yaitu di Pakistan sedangkan al-Jabiridi belahan dunia Islam bagian Barat, yaitu Maroko. Rahman dan al-Jabiri sama-sama prihatin atas krisis pemikiran yang telah beratus-ratus tahun melanda umat Islam. Kemudian, keduanya berusaha mencari alternative solusi atas persoalan tersebut. Terutama pada masalah diskursus epistemologi.




1 komentar:

  1. Epistemologi erat kaitannya dengan pertanyaan seputar pengetahuan diantaranya perlu diketahui darimanakah pengetahuan itu berasal dan dengan cara apakah pengetahuan diperoleh. Banyak kejadian pada masa lampau yang telah kita yakini bahwa itusebuah pengetahuan dan ternyata dikemudian hari pengetahuan itu banyak yang salah. Pengetahuannya kita yang salah itu mungkin pada awalnya dikarenakan salah dalam penggunaan cara memperoleh pengetahuan tersebut. Untuk mengetahui bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan perlu kita ketahui metode-metode utnuk memeproleh pengetahuan tersebut diantaranya yaitu dengan epistemologi : bayani, irfani, dan burhani.

    Sumber Bacaan :
    Louis Katsoff. 2004. Pengantar Fiilsafat, Pengantar Filsafat. Yogyakarta.: Tiara Wacana

    BalasHapus