Epistemologi Irfani
Diresum Oleh Siti Maesaroh (08410197)
Kata irfan adalah bentuk masdar dari 'arafa yang berarti pengetahuan. Pengetahuan irfan(esoterik) adalah pengetahuan yang diperoleh qalb melalui kasf, ilham dan 'iyan (persepsi langsung). Irfani adalah pendekatan yang bersumber pada intuisi dan metode yang digunakan adalah dengan latihan terus menerus atau mengasah secara berulang ulang. Dalam epistimologi irfani ini yang menjadi ukuran adalah kepuasan hati dengan tolak ukur memahami perasaan orang lain, simpati, empati. dalam mengambil keputusan berdasarkan apa yang tersirat dan apa yang dirasakan orang lain. Dalam epistimologi ini peran akal adalah partisipatif, nalar ini lebih menekankan pada pengalaman langsung sehingga yang lebih banyak terlibat adalah rasa. Konsep tentang Tuhan tidak sekedar atas dasar tekstual dalam nash, namun apa yang dirasakan seorang hamba ketika berhadapan dengan Tuhan. Konsep mendekatkan diri kepada Tuhan secara spiritual dan mental dengan Tuhan sehingga cenderung subjektif meskipun tidak meninggalkan ajaran formal.
Irfani berasal dari kata irfan yang dalam bahasa arab merupakan bentuk dasar (masdar) dari kata arafa yang semakna dengan ma’rifat. Dimana objek pengalaman atau pengetahuan yang di peroleh langsung oleh objek pengetahuan. Pengetahuan irfani tidak di dasarkan atas teks seperti bayani tetapi pada tasawuf, tersikapnya rahasia-raahasia dari tuhan. Irfani adalah model metodologi berfikir yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung (direct exprience) atas realitas spritual keagamaan.
BalasHapusTahap-tahap yang harus dilalui seseorang untuk mendapat pengetahuan secara irfani yaitu :
a.Tahap pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang yang biasan disebut salik (penempuh jalan spiritual) harus menyelesaikan jenjang-jenjang kehidupan spiritual.
b.Tahap kedua, tahap penerimaan. Dalam kajian filsafat Mehdi Yazdi, pada tahap seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran dirinya sendiri (musyahadah) sebagai objek yang diketahui
c.Tahap ketiga, pengungkapan. Ini merupakan tahap terakhir dari proses pencapaian pengetahuan irfani, dimana pengetahuan mistik diinterpresentasikan dan diungkapkan kepada orang lain lewat ucapan atau tulisan.
Sumber Bacaan :
Epistemologi Al-Irfani, http://harunalrasyidleutuan.wordpress.com/2010/01/26/epistemologi-al-irfani-2/, Diakses tanggal 25 Oktober 2010 jam 21.15 WIB
Sedikit menambahkan,dalam epistimologi ini,yang menjadi tolak ukur adalah dengan memahami perasaan orang lain. Katakanlah dalam realitasnya, untuk mengetahui rasanya sakit gigi, kita tidak bisa hanya dengan melihat ciri-ciri orang yang sedang sakit gigi. Akan tetapi kita perlu bertanya dengan orang yang pernah sakit gigi dan kita mengalami langsung. Dengan demikian, kita baru bisa mengetahui rasanya sakit gigi.Begitu pula pengalaman spiritual seseorang (berhadapan dengan Tuhan)tidak dapat kita simpulkan secara kasat mata.
BalasHapus